Aku benci dibuat menunggu. Hanya perkara bicara, menunggu bisa semudah
yang kau kira. Apalagi kalau dipaksa menunggu kabar dari seseorang yang
begitu kau khawatirkan, yang seperti tidak mengkhawatirkan dirinya
sendiri terlebih kau yang mengkhawatirkannya. Aku khawatir berlebihan.
Akhir-akhir ini aku banyak khawatir pada Adrian. Dia sedang banyak
sekali rapat, semakin sering ke luar kota, semakin jarang mengabari via
apapun. Kadang dalam sehari kami hanya bertukar suara sekali, alih-alih
bertemu. Dan tepat hari ini, dua hari sudah pria yang sudah dua tahun
kupacari itu menghilang di balik tumpukan pekerjaannya.
Selasa, 22 Oktober 2013
"Kalau cinta berwarna merah jambu, mungkin milikku berpendar ungu."
Kalau merah jambu
memendarkan cahaya lembut yang hangat, ungu-ku akan menusuk matamu dan
membuatnya sakit. Karena merah jambu-ku telah terlampau pekat, menyublim
jadi ungu tanpa bisa kutahan lajunya. Untuk itulah kau harus memejam
agar bisa melihat pendarnya. Bercampur gulita dalam matamu, ungu-ku akan
meredup jadi merah jambu. Tak akan kau dapati merah jambu-ku dengan
mata membelalak. Kau harus jadi kau sendiri, seorang diri agar bisa
menemukanku. Kalau aku bisa ditemukan oleh orang lain semudah saat kau
membuka mata, maka lebih baik aku tidak pernah tertulis untukmu.
Pejamkan matamu dan temukan ungu-ku membaur dalam dirimu dan jadi merah
jambu.
"Jadi, sudahkah kamu mengingatku hari ini?"
Kalau-kalau belum, kuingatkan kamu untuk mengingatku sekarang.
"Langit-langit kamar atau bayanganku. Mana yang lebih dulu kau lihat di separuh pagimu?"
Kalau benar tidur adalah
peralihan dari dunia fana ke dunia nyata, maka aku ingin berada di
antara keduanya. Menyusup ke dalam mimpimu, pelan-pelan mengisinya bak
hantu. Aku ingin memenuhi bunga tidurmu dengan sungguhan bunga. Hanya
akan ada adegan sempurna, tanpa kejar-kejaran dengan masalah dan
ditenggelamkan air mata. Hanya akan ada tawa membumbung ke angkasa,
senyummu yang sebesar dunia, dan aku yang menatap penuh bahagia. Dan
saat kau akhirnya bangun dan menghadapi hari lagi, kuharap yang kau
tangkap di mata dan hati masihlah aku. Seperti di mimpimu. Tak kau lihat
lagi langit-langit kamar yang putih. Aku akan menyambutmu di awal lini,
di separuh pagi.
"Persetan dengan dunia. Bagiku kau semesta."
Kalau saja manusia dicipta untuk
mampu melongo ke dalam pikiran orang lain. Kalau saja aku punya daya
untuk membaca baris perbaris susunan cerita di benakmu. Kalau saja aku
bisa melihat apa yang sudah dan akan kaulalui dalam pencapaianmu atas
masa depan kita yang masih abu-abu. Apa aku akan menemukan potongan
gelisahmu terhadapku? Apa aku akan menemukan rekahan senyummu atas
namaku? Apa aku akan mendapati gambaran waktu beberapa tahun lagi
bersamamu? Siapa yang tahu. Mungkin saja kita memang tidak pernah
tertulis di dimensi waktu manapun, termasuk masa lalu. Atau bahkan di
kehidupan berikutnya, di tempat baru setelah akhir dunia. Hanya ada aku
tanpa kau atau ada kau tapi tanpa hadirku. Tidak pernah ada kita.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)