Minggu, 02 Desember 2012

Bersama Sampai Tua




Katakan padaku teman, bahagiakah kamu setelah kita tak lagi berjalan beriringan. Saat kupikir kita lebih dari sekadar kuat untuk menjungkirbalikkan dunia, kamu memutuskan menjungkirbalikkan kita. Dunia kecil kita, yang kupikir akan selalu diramaikan oleh bertiga, kamu acak-acak seenaknya. Kalau saja kamu tahu, saat dunia kita porak poranda, aku hanya bisa menganga. Sebagian dariku berharap ini tidak nyata, sebagian lagi berharap kamu sebaiknya menghilang saja. Memangnya, sahabat mana yang pernah berpikir kalau suatu saat orang terdekatnya, yang seperti sudah melekat begitu rupa, bakal menghilang dan angkat kaki dari belasan tahun bersama.
Karena sungguh, kapan aku pernah memikirkan batas waktu kita bertiga. Bagiku, batas kita adalah selamanya, berbatasan dengan usia. Kemana larinya wisuda, menyaksikan akad nikah, lalu menikah bersama. Kemana larinya khayalan ingin menjodohkan anak-anak kita lalu membangun rumah berdekatan agar bisa selalu bertemu semaunya. Kemana larinya impian lucu untuk tetap menjadi ibu muda yang tak tergerus dunia. Kemana larinya kamu yang dulu percaya kalau kita bisa.
Kamu bilang, kita terlalu berbeda. Memang, kan? Bukankah sejak awal berpegangan tangan bersama, kita memang sudah berbeda. Kupikir justru itulah intinya. Toh, kita selalu bisa menertawakan semuanya. Kamu tahu, aku rindu masa dimana telepon rumah jadi satu-satunya sarana. Aku, kamu, kita, hanya bisa berkomunikasi dengan suara lalu bertatap muka. Karena saat penghubung hanya berupa kata, nyatanya benang kita makin menghilang kemudian seperti terputus begitu saja. Hingga kini, logikaku masih tak terima. Bagaimana bisa, kita yang kupikir untuk selamanya, tahu-tahu lebih asing dari teman biasa.
Kamu, melarikan diri dari lingkaran terdalamku. Kamu, membuat tiga tahu-tahu jadi dua. Kamu, melepaskan tangan lalu lenyap begitu saja. Kamu, entah kini baiknya kusebut apa. 
Untuk pertama kalinya sejak kita sudah tak lagi melangkah bersama, aku berterima kasih atas semua. Kutitipkan doa untukmu, agar kamu tak pernah berjalan sendirian meski kita tak lagi bersisian.
Ayo Rosma, kita bersama sampai tua, ya.

Bersama Sampai Tua




Katakan padaku teman, bahagiakah kamu setelah kita tak lagi berjalan beriringan. Saat kupikir kita lebih dari sekadar kuat untuk menjungkirbalikkan dunia, kamu memutuskan menjungkirbalikkan kita. Dunia kecil kita, yang kupikir akan selalu diramaikan oleh bertiga, kamu acak-acak seenaknya. Kalau saja kamu tahu, saat dunia kita porak poranda, aku hanya bisa menganga. Sebagian dariku berharap ini tidak nyata, sebagian lagi berharap kamu sebaiknya menghilang saja. Memangnya, sahabat mana yang pernah berpikir kalau suatu saat orang terdekatnya, yang seperti sudah melekat begitu rupa, bakal menghilang dan angkat kaki dari belasan tahun bersama.
Karena sungguh, kapan aku pernah memikirkan batas waktu kita bertiga. Bagiku, batas kita adalah selamanya, berbatasan dengan usia. Kemana larinya wisuda, menyaksikan akad nikah, lalu menikah bersama. Kemana larinya khayalan ingin menjodohkan anak-anak kita lalu membangun rumah berdekatan agar bisa selalu bertemu semaunya. Kemana larinya impian lucu untuk tetap menjadi ibu muda yang tak tergerus dunia. Kemana larinya kamu yang dulu percaya kalau kita bisa.
Kamu bilang, kita terlalu berbeda. Memang, kan? Bukankah sejak awal berpegangan tangan bersama, kita memang sudah berbeda. Kupikir justru itulah intinya. Toh, kita selalu bisa menertawakan semuanya. Kamu tahu, aku rindu masa dimana telepon rumah jadi satu-satunya sarana. Aku, kamu, kita, hanya bisa berkomunikasi dengan suara lalu bertatap muka. Karena saat penghubung hanya berupa kata, nyatanya benang kita makin menghilang kemudian seperti terputus begitu saja. Hingga kini, logikaku masih tak terima. Bagaimana bisa, kita yang kupikir untuk selamanya, tahu-tahu lebih asing dari teman biasa.
Kamu, melarikan diri dari lingkaran terdalamku. Kamu, membuat tiga tahu-tahu jadi dua. Kamu, melepaskan tangan lalu lenyap begitu saja. Kamu, entah kini baiknya kusebut apa. 
Untuk pertama kalinya sejak kita sudah tak lagi melangkah bersama, aku berterima kasih atas semua. Kutitipkan doa untukmu, agar kamu tak pernah berjalan sendirian meski kita tak lagi bersisian.
Ayo Rosma, kita bersama sampai tua, ya.

Sabtu, 01 Desember 2012

Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan

Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup

Sayang, 
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa

Sayang, 
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian

Sayang, 
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan

Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup

Sayang, 
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa

Sayang, 
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian

Sayang, 
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan

Selasa, 27 November 2012




Cintailah dirimu sendiri, setidaknya untukmu sendiri
Terjerembab dan sekarat mungkin membuat hati mati

Tapi seperti kaca yang berefleksi, saat hati mati logika hidup lagi

Tiap kali hati terluka, tempat untuk logika semakin terbuka

Begitu juga sebaliknya

Tiap kali hati terlena, tempat untuk logika akan terabaikan

Sesekali menikmati kekalahan dan berdiam tidaklah salah

Saat kalah, tiada guna kau berontak

Itu sama seperti tak berotak

Istirahatlah, berilah waktu untuk hati dan logika

Berikan jeda hati untuk pulih agar lebih cerdas memilih

Berikan kesempatan untuk logika untuk membeberkan semua