Senin, 03 Desember 2012
Minggu, 02 Desember 2012
Bersama Sampai Tua
Katakan padaku teman, bahagiakah kamu setelah kita tak lagi berjalan beriringan. Saat kupikir kita lebih dari sekadar kuat untuk menjungkirbalikkan dunia, kamu memutuskan menjungkirbalikkan kita. Dunia kecil kita, yang kupikir akan selalu diramaikan oleh bertiga, kamu acak-acak seenaknya. Kalau saja kamu tahu, saat dunia kita porak poranda, aku hanya bisa menganga. Sebagian dariku berharap ini tidak nyata, sebagian lagi berharap kamu sebaiknya menghilang saja. Memangnya, sahabat mana yang pernah berpikir kalau suatu saat orang terdekatnya, yang seperti sudah melekat begitu rupa, bakal menghilang dan angkat kaki dari belasan tahun bersama.
Karena sungguh, kapan aku pernah memikirkan batas waktu kita bertiga. Bagiku, batas kita adalah selamanya, berbatasan dengan usia. Kemana larinya wisuda, menyaksikan akad nikah, lalu menikah bersama. Kemana larinya khayalan ingin menjodohkan anak-anak kita lalu membangun rumah berdekatan agar bisa selalu bertemu semaunya. Kemana larinya impian lucu untuk tetap menjadi ibu muda yang tak tergerus dunia. Kemana larinya kamu yang dulu percaya kalau kita bisa.
Kamu bilang, kita terlalu berbeda. Memang, kan? Bukankah sejak awal berpegangan tangan bersama, kita memang sudah berbeda. Kupikir justru itulah intinya. Toh, kita selalu bisa menertawakan semuanya. Kamu tahu, aku rindu masa dimana telepon rumah jadi satu-satunya sarana. Aku, kamu, kita, hanya bisa berkomunikasi dengan suara lalu bertatap muka. Karena saat penghubung hanya berupa kata, nyatanya benang kita makin menghilang kemudian seperti terputus begitu saja. Hingga kini, logikaku masih tak terima. Bagaimana bisa, kita yang kupikir untuk selamanya, tahu-tahu lebih asing dari teman biasa.
Kamu, melarikan diri dari lingkaran terdalamku. Kamu, membuat tiga tahu-tahu jadi dua. Kamu, melepaskan tangan lalu lenyap begitu saja. Kamu, entah kini baiknya kusebut apa.
Untuk pertama kalinya sejak kita sudah tak lagi melangkah bersama, aku berterima kasih atas semua. Kutitipkan doa untukmu, agar kamu tak pernah berjalan sendirian meski kita tak lagi bersisian.
Ayo Rosma, kita bersama sampai tua, ya.
Bersama Sampai Tua
Katakan padaku teman, bahagiakah kamu setelah kita tak lagi berjalan
beriringan. Saat kupikir kita lebih dari sekadar kuat untuk
menjungkirbalikkan dunia, kamu memutuskan menjungkirbalikkan kita. Dunia
kecil kita, yang kupikir akan selalu diramaikan oleh bertiga, kamu
acak-acak seenaknya. Kalau saja kamu tahu, saat dunia kita porak
poranda, aku hanya bisa menganga. Sebagian dariku berharap ini tidak
nyata, sebagian lagi berharap kamu sebaiknya menghilang saja. Memangnya,
sahabat mana yang pernah berpikir kalau suatu saat orang terdekatnya,
yang seperti sudah melekat begitu rupa, bakal menghilang dan angkat kaki
dari belasan tahun bersama.
Karena sungguh, kapan aku pernah memikirkan batas waktu kita bertiga.
Bagiku, batas kita adalah selamanya, berbatasan dengan usia. Kemana
larinya wisuda, menyaksikan akad nikah, lalu menikah bersama. Kemana
larinya khayalan ingin menjodohkan anak-anak kita lalu membangun rumah
berdekatan agar bisa selalu bertemu semaunya. Kemana larinya impian lucu
untuk tetap menjadi ibu muda yang tak tergerus dunia. Kemana larinya
kamu yang dulu percaya kalau kita bisa.
Kamu bilang, kita terlalu berbeda. Memang, kan? Bukankah sejak awal
berpegangan tangan bersama, kita memang sudah berbeda. Kupikir justru
itulah intinya. Toh, kita selalu bisa menertawakan semuanya. Kamu tahu,
aku rindu masa dimana telepon rumah jadi satu-satunya sarana. Aku, kamu,
kita, hanya bisa berkomunikasi dengan suara lalu bertatap muka. Karena
saat penghubung hanya berupa kata, nyatanya benang kita makin menghilang
kemudian seperti terputus begitu saja. Hingga kini, logikaku masih tak
terima. Bagaimana bisa, kita yang kupikir untuk selamanya, tahu-tahu
lebih asing dari teman biasa.
Kamu, melarikan diri dari lingkaran terdalamku. Kamu, membuat tiga
tahu-tahu jadi dua. Kamu, melepaskan tangan lalu lenyap begitu saja.
Kamu, entah kini baiknya kusebut apa.
Untuk pertama kalinya sejak kita sudah tak lagi melangkah bersama, aku
berterima kasih atas semua. Kutitipkan doa untukmu, agar kamu tak pernah
berjalan sendirian meski kita tak lagi bersisian.
Ayo Rosma, kita bersama sampai tua, ya.
Sabtu, 01 Desember 2012
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian
Sayang,
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian
Sayang,
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian
Sayang,
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan
ini penghujung tahun dan kita masih sendiri
masih belum berpegangan tangan
masih sering dan hobi berselisih jalan
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih begini
masih belum menyadari benar arti hidup
masih suka mengegokan jantung yang berdegup
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih beda lini
masih belum tahu harus bagaimana
masih tidak mengerti sepenuhnya tentang rasa
Sayang,
ini penghujung tahun dan kita masih kurang arti
masih belum terbangun dari galau hujan
masih gagal menghadapi ujian
Sayang,
ini penghujung tahun, kan? Mari berpelukan
Selasa, 27 November 2012
Cintailah dirimu sendiri, setidaknya untukmu sendiri
Terjerembab dan sekarat mungkin membuat hati mati
Tapi seperti kaca yang berefleksi, saat hati mati logika hidup lagi
Tiap kali hati terluka, tempat untuk logika semakin terbuka
Begitu juga sebaliknya
Tiap kali hati terlena, tempat untuk logika akan terabaikan
Sesekali menikmati kekalahan dan berdiam tidaklah salah
Saat kalah, tiada guna kau berontak
Itu sama seperti tak berotak
Istirahatlah, berilah waktu untuk hati dan logika
Berikan jeda hati untuk pulih agar lebih cerdas memilih
Berikan kesempatan untuk logika untuk membeberkan semua
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



