Rabu, 25 September 2013

Entah kenapa tiba-tiba pingin membahas galau. Sebenarnya semua orang pasti pernah galau, hanya saja pelampiasannya berbeda. Yang aku nggak habis pikir, kenapa ada orang-orang galau-nya muncrat-muncrat sampai rasanya seisi dunia harus tahu. Yah, itu hak masing-masing. Mau galau sambil kayang atau apapun. Tapi, bukankah akan lebih baik kalau nggak semua orang bisa tahu apa yang kita rasakan. Rasanya nggak enak lho di-judge jelek cuma karena ekspresi cinta-galau yang berlebihan.

Lagi-lagi, semua pilihan, kan.

mommy kece

Kuliah, kerja, menikah. Fase setelah itu mengandung, melahirkan, membesarkan, dan merawat. Setelahnya kita-wanita-menua dan menikmati usia. Banyak dari teman-temanku yang ingin menikah muda karena ingin cepat menimang bayi. Ada juga yang karena nggak ingin kelihatan tua padahal anaknya masih muda. Bahkan ada beberapa temanku yang menargetkan menikah dua-tiga tahun lagi. Dan aku ngeri membayangkannya.
Aku bukan termasuk pengikut menikah muda. Aku termasuk tipe yang nggak ambil pusing masalah usia. Yah, bukan berarti aku ingin menikah di usia 30an. Aku hanya nggak terpikir untuk melepas masa merdeka sebagai lajang di usia yang seharusnya masih bisa dihabiskan untuk senang-senang sendiri. Aku masih ingin menyelesaikan banyak desain rumah, masih ingin jalan-jalan berburu buku di Gramedia sendirian, masih ingin ke Jepang sendirian. Banyak hal-hal yang masih ingin kulakukan sebagai seorang single woman.
Temanku pernah bilang, "Nanti anakmu masih kecil, kamu udah tua banget!"
Dan aku selalu membalas, "Nggak masalah tuaan dikit. Yang penting tetap jadi Mommy kece yang jiwanya muda."
Sejak itu, aku jadi 'Mommy Kece'.
Aku memang ingin sekali di panggil Mommy. Nggak tahu deh kalau nanti ternyata suamiku ingin dipanggil Ayah atau Papa. Jadilah anak-anakku bakal manggil, "Mom, mana Ayah?"
Aku ingin jadi seorang Ibu. Aku pasti ingin. Semua wanita ingin.
Membicarakannya dari sekarang, memikirkan seperti apa anak kami nanti, mengkhayalkan perjodohan, sampai sekolah bersama. Rasanya semua wajah jadi cantik saat berkumpul dan membicarakannya. Aku termasuk yang sering bercanda kalau membicarakan soal suami dan anak. Karena pada dasarnya aku memang belum membayangkan terlalu detail mengenai mereka. Tapi, aku bahagia sekali membicarakan ini bersama teman-temanku yang semua hatinya keibuan itu. Apalagi saat mereka memanggilku 'Mommy Kece'.
Tulisan ini mungkin bakal kutertawakan, kalau suatu saat aku benar-benar dipanggil Mommy.

Berbahagialah ya, cewek-cewek. Kita nanti jadi seorang Ibu lho! :)
Aku dan kamu menjalin jemari
erat, sangat erat, hingga seakan jemari itu melekat

Mati-matian aku dan kamu bertahan
aku tak peduli sakit, kamu tak peduli mati

Lagipula,
siapa yang punya daya atas jatuh cinta?
Apa kamu cinta aku?
Itu pertanyaan sulit. Karena jika aku menjelaskan jawabannya, hatimu akan remuk oleh besarnya. Simpan untukmu sendiri jawabanku, dan aku juga akan menyimpan kamu hati-hati. Di hati.
Apa kamu cinta aku?
Itu pertanyaan sulit. Karena jika aku menjelaskan jawabannya, hatimu akan remuk oleh besarnya. Simpan untukmu sendiri jawabanku, dan aku juga akan menyimpan kamu hati-hati. Di hati.

Selasa, 24 September 2013

Dan... waktunya berterima kasih pada Tuhan atas segala hal yang masih bisa digenggam, dirasakan, dinikmati, diresapi, dan dikenang. Terima kasih atas adanya perasaan, pikiran, dan segala pergolakan. Atas hati, batin, benak, dan logika. Atas rasa dan asa. Atas musibah, cobaan, dan pelajaran. 
Atas sesuatu dan seseorang. Atas masa lalu dan masa depan.

Atas nafas, darah, dan nyawa.

Terima kasih, Tuhan.

aku nggak akan pergi

Kamu melihatku dari pantulan kaca. Aku yang sedang merapikan semua bajuku dan sibuk mengeluarkan semua barang bermerek darimu. Kamu hanya menggosok gigi dengan santai. Kamu bahkan sempat mencukur jambang yang belum panjang, padahal aku sudah sengaja memperlambat gerakan beres-beresku. Aku harap kamu mengerti aku. Aku harap kamu menghentikan aku. Tapi kamu, hanya meraih handuk dan menghilang di kamar mandi.
Kamu memang paling jago mempermainkan perasaanku.
Hari ini aku pergi. Menetap di luar negeri selama tiga tahun lamanya. Aku ingin pergi, tapi aku juga ingin kamu menahan dan mengemis aku. Memintaku untuk tetap di sini. Bersamamu. Tapi kamu, sama sekali nggak peduli.
Kami memang paling anti meluruhkan ego untuk memahamiku.
Aku beranjak. Air mata mulai merangkak naik. Aku mulai kepayahan menahan luruhnya saat kudengar kamu mendendangkan lagu di bilik kecil itu. Kamu hebat ya, Sayang. Kepala dan hatimu itu sudah lebih keras dari batu.
Di depan pintu keluar, selembar catatan menahan langkahku.
Aku terlalu cengeng untuk melepasmu. Aku akan menunggumu. Tiga tahun, kan? :')
Tanganku gemetar di gagang pintu. Aku mengangkat koper dengan mantap, melangkah dengan senyum dan hangatnya banjir di pipi. Aku terus berjalan. Dan berhenti di perhentianku.
Kamu keluar dari kamar mandi. Terdiam menatapku.

Aku batal pergi. Aku nggak akan pergi.