MAAF.
Sejujurnya aku tak bisa melupakan mu...
aku selalu ingat caramu mentapku, caramu mencuri perhatianku.
Hal - hal sesederhana itu seakan - akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan.
Tolong buat aku lupa.
Karena aku tak lagi menemukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku
Selasa, 20 Agustus 2013
Kambing Jantan
Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh.
Ini pertama kalinya saya membaca buku yang sangat-sangat bodoh! hahaha. Buku pertama Raditya Dika ini sangatlah berbeda dengan buku-buku yang pernah saya baca sebelumnya, benar-benar di luar pikiran saya ada orang yang menulis cerita hidupnya sendiri dengan sangat gamblang akan kekonyolannya sendiri. Tapi itulah Raditya Dika, hidupnya sepertinya selalu penuh dengan kekonyolan-kekonyolan baik dari dirinya sendiri, maupun dari orang-orang disekitarnya.
Walaupun saya sedikit terpengaruh akan kebodohannya, tapi saya tidak pernah bosan membaca buku ini, karena isinya sangat segar seperti minum segelas soda dingin di pagi hari yang dingin, segar dan bikin sakit perut! karena saya tidak bisa berhenti tertawa karenanya! ahahaha!
saya memberi bintang empat, karena buku ini berhasil mendobrak pakem novel-novel Indonesia yang kebanyakan bertemakan cinta, cinta dan cinta. Lawakan di buku ini juga terasa sangat nyata (karena emang berdasarkan cerita hidupnya) dan tidak memaksakan untuk lucu, sangat orisinil! Hal inilah yang membedakan buku Kambing Jantan ini dengan buku-buku Raditya berikutnya.
Namun satu yang mesti diwaspadai, buku ini menjadi pionir bagi kemunculan buku-buku bertemakan kebodohan dan kekonyolan yang sayangnya bagi saya terlalu dibuat-buat dan dipaksakan untuk menjadi lucu. Banyak orang yang kemudian latah untuk menulis buku dengan tema kebodohan dan kekonyolan yang ternyata isinya sangat tidak jelas dan sama sekali tidak memperhatikan kualitas cerita dan penulisan. Sangat disayangkan toko buku kembali dipenuhi oleh buku-buku yang tidak berkualitas.
Oke cukup sekian, delapan jempol saya dan kucing saya untuk Raditya Dika!
Walaupun saya sedikit terpengaruh akan kebodohannya, tapi saya tidak pernah bosan membaca buku ini, karena isinya sangat segar seperti minum segelas soda dingin di pagi hari yang dingin, segar dan bikin sakit perut! karena saya tidak bisa berhenti tertawa karenanya! ahahaha!
saya memberi bintang empat, karena buku ini berhasil mendobrak pakem novel-novel Indonesia yang kebanyakan bertemakan cinta, cinta dan cinta. Lawakan di buku ini juga terasa sangat nyata (karena emang berdasarkan cerita hidupnya) dan tidak memaksakan untuk lucu, sangat orisinil! Hal inilah yang membedakan buku Kambing Jantan ini dengan buku-buku Raditya berikutnya.
Namun satu yang mesti diwaspadai, buku ini menjadi pionir bagi kemunculan buku-buku bertemakan kebodohan dan kekonyolan yang sayangnya bagi saya terlalu dibuat-buat dan dipaksakan untuk menjadi lucu. Banyak orang yang kemudian latah untuk menulis buku dengan tema kebodohan dan kekonyolan yang ternyata isinya sangat tidak jelas dan sama sekali tidak memperhatikan kualitas cerita dan penulisan. Sangat disayangkan toko buku kembali dipenuhi oleh buku-buku yang tidak berkualitas.
Oke cukup sekian, delapan jempol saya dan kucing saya untuk Raditya Dika!
Kambing Jantan
Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh.
Ini pertama kalinya saya membaca buku yang sangat-sangat bodoh! hahaha.
Buku pertama Raditya Dika ini sangatlah berbeda dengan buku-buku yang
pernah saya baca sebelumnya, benar-benar di luar pikiran saya ada orang
yang menulis cerita hidupnya sendiri dengan sangat gamblang akan
kekonyolannya sendiri. Tapi itulah Raditya Dika, hidupnya sepertinya
selalu penuh dengan kekonyolan-kekonyolan baik dari dirinya sendiri,
maupun dari orang-orang disekitarnya.
Walaupun saya sedikit terpengaruh akan kebodohannya, tapi saya tidak pernah bosan membaca buku ini, karena isinya sangat segar seperti minum segelas soda dingin di pagi hari yang dingin, segar dan bikin sakit perut! karena saya tidak bisa berhenti tertawa karenanya! ahahaha!
saya memberi bintang empat, karena buku ini berhasil mendobrak pakem novel-novel Indonesia yang kebanyakan bertemakan cinta, cinta dan cinta. Lawakan di buku ini juga terasa sangat nyata (karena emang berdasarkan cerita hidupnya) dan tidak memaksakan untuk lucu, sangat orisinil! Hal inilah yang membedakan buku Kambing Jantan ini dengan buku-buku Raditya berikutnya.
Namun satu yang mesti diwaspadai, buku ini menjadi pionir bagi kemunculan buku-buku bertemakan kebodohan dan kekonyolan yang sayangnya bagi saya terlalu dibuat-buat dan dipaksakan untuk menjadi lucu. Banyak orang yang kemudian latah untuk menulis buku dengan tema kebodohan dan kekonyolan yang ternyata isinya sangat tidak jelas dan sama sekali tidak memperhatikan kualitas cerita dan penulisan. Sangat disayangkan toko buku kembali dipenuhi oleh buku-buku yang tidak berkualitas.
Oke cukup sekian, delapan jempol saya dan kucing saya untuk Raditya Dika!
Walaupun saya sedikit terpengaruh akan kebodohannya, tapi saya tidak pernah bosan membaca buku ini, karena isinya sangat segar seperti minum segelas soda dingin di pagi hari yang dingin, segar dan bikin sakit perut! karena saya tidak bisa berhenti tertawa karenanya! ahahaha!
saya memberi bintang empat, karena buku ini berhasil mendobrak pakem novel-novel Indonesia yang kebanyakan bertemakan cinta, cinta dan cinta. Lawakan di buku ini juga terasa sangat nyata (karena emang berdasarkan cerita hidupnya) dan tidak memaksakan untuk lucu, sangat orisinil! Hal inilah yang membedakan buku Kambing Jantan ini dengan buku-buku Raditya berikutnya.
Namun satu yang mesti diwaspadai, buku ini menjadi pionir bagi kemunculan buku-buku bertemakan kebodohan dan kekonyolan yang sayangnya bagi saya terlalu dibuat-buat dan dipaksakan untuk menjadi lucu. Banyak orang yang kemudian latah untuk menulis buku dengan tema kebodohan dan kekonyolan yang ternyata isinya sangat tidak jelas dan sama sekali tidak memperhatikan kualitas cerita dan penulisan. Sangat disayangkan toko buku kembali dipenuhi oleh buku-buku yang tidak berkualitas.
Oke cukup sekian, delapan jempol saya dan kucing saya untuk Raditya Dika!
Sang Pemilik Rusuk -- Posted by Indah Arifallah :)
Ini mungkin akan membuatmu menggulirkan bola mata karena judul yang terlalu melow. Ini mungkin akan membuatmu malas karena pembahasan semacam ini agak berat. Tapi, ini selalu membuatku tersenyum saat membayangkannya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak menyodorkan cincin untuk memintamu? Mungkin bukan cincin mahal dengan berlian sebesar kepalan tangan, bisa jadi hanya sebentuk cincin kecil berukiran sederhana dan tampak kurang menarik. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya butuh berjam-jam untuk memilihnya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berani dan punya cukup nyali untuk menemui ayah dan ibumu, bicara empat mata dengan tegang pada mereka, dan harap-harap cemas dalam penantiannya? Mungkin bukan lamaran dengan pesta kejutan atau iring-iringan band, bisa jadi hanya kedatangan yang tampak biasa di sore hari. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya berjuang melatih bicaranya di kamar sembari bolak-balik menahan gugup.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak memandangi wajahmu dengan yakin, kemudian membulatkan tekad kalau kau bisa menjadi ibu yang hebat buat anak-anaknya? Mungkin yang satu ini tak pernah dinyatakannya, atau bahkan ia tak pernah menunjukkan tanda-tandanya. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya telah jutaan kali membayangkanmu menggendong anak perempuannya atau bercengkrama dengan anak lelakinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak mengantarmu ke rumah sakit saat kau mengalami pasang surut perasaan mengandung anak? Mungkin terkadang ia akan habis kesabaran menghadapimu, atau bahkan ia tak juga tak akan bisa sering mengantarmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu khawatir dengan keadaanmu dan begitu tak sabar melihat anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berdiri dan memompa semangatmu, berteriak, menelan ludah susah payah, saat tiba waktunya melahirkan? Mungkin nantinya ia tak akan berada di ruang bersalin, atau bahkan ia sedang dinas di kota lain. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya mengalami sesak nafas akut yang hanya bisa disembuhkan oleh tangis anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak tiap malamnya tertidur lelap di sampingmu? Mungkin ia akan mendengkur keras atau mengigau, mengganggu kualitas tidurmu dan membuatmu hilang kesabaran. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu senang mengetahui kau masih setia berada di sampingnya hingga matahari terbit, dan tak jarang bangun lebih dulu hanya untuk menatap wajah terlelapmu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu sibuk bereksperimen dengan berbagai resep makanan? Mungkin ia akan mencela dan menyerngit, atau ia hanya berwajah datar saat kau sajikan makanan percobaanmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya senang melihatmu rela berpanas-panas di dapur untuknya, bangga melihatmu berakrobat dengan bumbu demi menyenangkan hatinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan menjadi tempat bersandarmu selamanya, merengkuhmu dalam pelukan hangatnya, menenangkanmu dalam diamnya, dan ikut menangis dalam dukamu? Mungkin segala upayanya sia-sia, mungkin juga ia terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya tak pernah ingin melihatmu menangis, begitu takut melihatmu terluka, dan ia tak sanggup menahan perasaan bersalah saat gagal membuatmu tertawa.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu marah besar, berteriak keras penuh emosi, dan mendadak menyesal telah menikahinya? Yang satu ini bagian tak mengenakkan sekaligus tak terelakan. Dan kita tak pernah tahu kalau ternyata ia yang ceria nyatanya bisa marah begitu dahsyat. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya juga manusia biasa. Sama sepertimu, ia juga benci pertengkaran dan debat sengit, ia tak suka melihatmu mengacungkan telunjuk padanya, menuding tingkahnya, dan menyalahkannya. Ia menikahimu karena mencintaimu, ingin menjagamu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak membuatmu yakin pada cinta sejati, cinta selamanya, dan belahan jiwa?
Ini tidak untuk dijawab. Anggukan, senyum, dan bayanganmu tentangnya telah menunjukkan semua. Kau tahu, kadang cinta membuatmu tertawa begitu keras. Entah karena bahagia atau menertawakan dirimu sendiri. Tapi, hanya pada pemilik rusuk-lah semua cinta rela dibagi dan digadaikan tanpa sisa.
Saat ini ia menunggumu. Ia bisa berada di mana saja. Ia bisa siapa saja. Satu hal yang pasti, ia berada di masa depanmu. Kalian sedang saling menunggu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak menyodorkan cincin untuk memintamu? Mungkin bukan cincin mahal dengan berlian sebesar kepalan tangan, bisa jadi hanya sebentuk cincin kecil berukiran sederhana dan tampak kurang menarik. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya butuh berjam-jam untuk memilihnya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berani dan punya cukup nyali untuk menemui ayah dan ibumu, bicara empat mata dengan tegang pada mereka, dan harap-harap cemas dalam penantiannya? Mungkin bukan lamaran dengan pesta kejutan atau iring-iringan band, bisa jadi hanya kedatangan yang tampak biasa di sore hari. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya berjuang melatih bicaranya di kamar sembari bolak-balik menahan gugup.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak memandangi wajahmu dengan yakin, kemudian membulatkan tekad kalau kau bisa menjadi ibu yang hebat buat anak-anaknya? Mungkin yang satu ini tak pernah dinyatakannya, atau bahkan ia tak pernah menunjukkan tanda-tandanya. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya telah jutaan kali membayangkanmu menggendong anak perempuannya atau bercengkrama dengan anak lelakinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak mengantarmu ke rumah sakit saat kau mengalami pasang surut perasaan mengandung anak? Mungkin terkadang ia akan habis kesabaran menghadapimu, atau bahkan ia tak juga tak akan bisa sering mengantarmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu khawatir dengan keadaanmu dan begitu tak sabar melihat anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berdiri dan memompa semangatmu, berteriak, menelan ludah susah payah, saat tiba waktunya melahirkan? Mungkin nantinya ia tak akan berada di ruang bersalin, atau bahkan ia sedang dinas di kota lain. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya mengalami sesak nafas akut yang hanya bisa disembuhkan oleh tangis anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak tiap malamnya tertidur lelap di sampingmu? Mungkin ia akan mendengkur keras atau mengigau, mengganggu kualitas tidurmu dan membuatmu hilang kesabaran. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu senang mengetahui kau masih setia berada di sampingnya hingga matahari terbit, dan tak jarang bangun lebih dulu hanya untuk menatap wajah terlelapmu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu sibuk bereksperimen dengan berbagai resep makanan? Mungkin ia akan mencela dan menyerngit, atau ia hanya berwajah datar saat kau sajikan makanan percobaanmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya senang melihatmu rela berpanas-panas di dapur untuknya, bangga melihatmu berakrobat dengan bumbu demi menyenangkan hatinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan menjadi tempat bersandarmu selamanya, merengkuhmu dalam pelukan hangatnya, menenangkanmu dalam diamnya, dan ikut menangis dalam dukamu? Mungkin segala upayanya sia-sia, mungkin juga ia terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya tak pernah ingin melihatmu menangis, begitu takut melihatmu terluka, dan ia tak sanggup menahan perasaan bersalah saat gagal membuatmu tertawa.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu marah besar, berteriak keras penuh emosi, dan mendadak menyesal telah menikahinya? Yang satu ini bagian tak mengenakkan sekaligus tak terelakan. Dan kita tak pernah tahu kalau ternyata ia yang ceria nyatanya bisa marah begitu dahsyat. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya juga manusia biasa. Sama sepertimu, ia juga benci pertengkaran dan debat sengit, ia tak suka melihatmu mengacungkan telunjuk padanya, menuding tingkahnya, dan menyalahkannya. Ia menikahimu karena mencintaimu, ingin menjagamu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak membuatmu yakin pada cinta sejati, cinta selamanya, dan belahan jiwa?
Ini tidak untuk dijawab. Anggukan, senyum, dan bayanganmu tentangnya telah menunjukkan semua. Kau tahu, kadang cinta membuatmu tertawa begitu keras. Entah karena bahagia atau menertawakan dirimu sendiri. Tapi, hanya pada pemilik rusuk-lah semua cinta rela dibagi dan digadaikan tanpa sisa.
Saat ini ia menunggumu. Ia bisa berada di mana saja. Ia bisa siapa saja. Satu hal yang pasti, ia berada di masa depanmu. Kalian sedang saling menunggu.
Sang Pemilik Rusuk -- Posted by Indah Arifallah :)
Ini mungkin akan membuatmu menggulirkan bola mata karena judul yang
terlalu melow. Ini mungkin akan membuatmu malas karena pembahasan
semacam ini agak berat. Tapi, ini selalu membuatku tersenyum saat
membayangkannya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak menyodorkan cincin untuk memintamu? Mungkin bukan cincin mahal dengan berlian sebesar kepalan tangan, bisa jadi hanya sebentuk cincin kecil berukiran sederhana dan tampak kurang menarik. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya butuh berjam-jam untuk memilihnya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berani dan punya cukup nyali untuk menemui ayah dan ibumu, bicara empat mata dengan tegang pada mereka, dan harap-harap cemas dalam penantiannya? Mungkin bukan lamaran dengan pesta kejutan atau iring-iringan band, bisa jadi hanya kedatangan yang tampak biasa di sore hari. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya berjuang melatih bicaranya di kamar sembari bolak-balik menahan gugup.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak memandangi wajahmu dengan yakin, kemudian membulatkan tekad kalau kau bisa menjadi ibu yang hebat buat anak-anaknya? Mungkin yang satu ini tak pernah dinyatakannya, atau bahkan ia tak pernah menunjukkan tanda-tandanya. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya telah jutaan kali membayangkanmu menggendong anak perempuannya atau bercengkrama dengan anak lelakinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak mengantarmu ke rumah sakit saat kau mengalami pasang surut perasaan mengandung anak? Mungkin terkadang ia akan habis kesabaran menghadapimu, atau bahkan ia tak juga tak akan bisa sering mengantarmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu khawatir dengan keadaanmu dan begitu tak sabar melihat anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berdiri dan memompa semangatmu, berteriak, menelan ludah susah payah, saat tiba waktunya melahirkan? Mungkin nantinya ia tak akan berada di ruang bersalin, atau bahkan ia sedang dinas di kota lain. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya mengalami sesak nafas akut yang hanya bisa disembuhkan oleh tangis anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak tiap malamnya tertidur lelap di sampingmu? Mungkin ia akan mendengkur keras atau mengigau, mengganggu kualitas tidurmu dan membuatmu hilang kesabaran. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu senang mengetahui kau masih setia berada di sampingnya hingga matahari terbit, dan tak jarang bangun lebih dulu hanya untuk menatap wajah terlelapmu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu sibuk bereksperimen dengan berbagai resep makanan? Mungkin ia akan mencela dan menyerngit, atau ia hanya berwajah datar saat kau sajikan makanan percobaanmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya senang melihatmu rela berpanas-panas di dapur untuknya, bangga melihatmu berakrobat dengan bumbu demi menyenangkan hatinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan menjadi tempat bersandarmu selamanya, merengkuhmu dalam pelukan hangatnya, menenangkanmu dalam diamnya, dan ikut menangis dalam dukamu? Mungkin segala upayanya sia-sia, mungkin juga ia terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya tak pernah ingin melihatmu menangis, begitu takut melihatmu terluka, dan ia tak sanggup menahan perasaan bersalah saat gagal membuatmu tertawa.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu marah besar, berteriak keras penuh emosi, dan mendadak menyesal telah menikahinya? Yang satu ini bagian tak mengenakkan sekaligus tak terelakan. Dan kita tak pernah tahu kalau ternyata ia yang ceria nyatanya bisa marah begitu dahsyat. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya juga manusia biasa. Sama sepertimu, ia juga benci pertengkaran dan debat sengit, ia tak suka melihatmu mengacungkan telunjuk padanya, menuding tingkahnya, dan menyalahkannya. Ia menikahimu karena mencintaimu, ingin menjagamu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak membuatmu yakin pada cinta sejati, cinta selamanya, dan belahan jiwa?
Ini tidak untuk dijawab. Anggukan, senyum, dan bayanganmu tentangnya telah menunjukkan semua. Kau tahu, kadang cinta membuatmu tertawa begitu keras. Entah karena bahagia atau menertawakan dirimu sendiri. Tapi, hanya pada pemilik rusuk-lah semua cinta rela dibagi dan digadaikan tanpa sisa.
Saat ini ia menunggumu. Ia bisa berada di mana saja. Ia bisa siapa saja. Satu hal yang pasti, ia berada di masa depanmu. Kalian sedang saling menunggu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak menyodorkan cincin untuk memintamu? Mungkin bukan cincin mahal dengan berlian sebesar kepalan tangan, bisa jadi hanya sebentuk cincin kecil berukiran sederhana dan tampak kurang menarik. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya butuh berjam-jam untuk memilihnya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berani dan punya cukup nyali untuk menemui ayah dan ibumu, bicara empat mata dengan tegang pada mereka, dan harap-harap cemas dalam penantiannya? Mungkin bukan lamaran dengan pesta kejutan atau iring-iringan band, bisa jadi hanya kedatangan yang tampak biasa di sore hari. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya berjuang melatih bicaranya di kamar sembari bolak-balik menahan gugup.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak memandangi wajahmu dengan yakin, kemudian membulatkan tekad kalau kau bisa menjadi ibu yang hebat buat anak-anaknya? Mungkin yang satu ini tak pernah dinyatakannya, atau bahkan ia tak pernah menunjukkan tanda-tandanya. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya telah jutaan kali membayangkanmu menggendong anak perempuannya atau bercengkrama dengan anak lelakinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak mengantarmu ke rumah sakit saat kau mengalami pasang surut perasaan mengandung anak? Mungkin terkadang ia akan habis kesabaran menghadapimu, atau bahkan ia tak juga tak akan bisa sering mengantarmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu khawatir dengan keadaanmu dan begitu tak sabar melihat anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak berdiri dan memompa semangatmu, berteriak, menelan ludah susah payah, saat tiba waktunya melahirkan? Mungkin nantinya ia tak akan berada di ruang bersalin, atau bahkan ia sedang dinas di kota lain. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya mengalami sesak nafas akut yang hanya bisa disembuhkan oleh tangis anaknya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak tiap malamnya tertidur lelap di sampingmu? Mungkin ia akan mendengkur keras atau mengigau, mengganggu kualitas tidurmu dan membuatmu hilang kesabaran. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya begitu senang mengetahui kau masih setia berada di sampingnya hingga matahari terbit, dan tak jarang bangun lebih dulu hanya untuk menatap wajah terlelapmu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu sibuk bereksperimen dengan berbagai resep makanan? Mungkin ia akan mencela dan menyerngit, atau ia hanya berwajah datar saat kau sajikan makanan percobaanmu. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya senang melihatmu rela berpanas-panas di dapur untuknya, bangga melihatmu berakrobat dengan bumbu demi menyenangkan hatinya.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan menjadi tempat bersandarmu selamanya, merengkuhmu dalam pelukan hangatnya, menenangkanmu dalam diamnya, dan ikut menangis dalam dukamu? Mungkin segala upayanya sia-sia, mungkin juga ia terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya tak pernah ingin melihatmu menangis, begitu takut melihatmu terluka, dan ia tak sanggup menahan perasaan bersalah saat gagal membuatmu tertawa.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak akan membuatmu marah besar, berteriak keras penuh emosi, dan mendadak menyesal telah menikahinya? Yang satu ini bagian tak mengenakkan sekaligus tak terelakan. Dan kita tak pernah tahu kalau ternyata ia yang ceria nyatanya bisa marah begitu dahsyat. Tapi ia, si pemilik rusuk, nyatanya juga manusia biasa. Sama sepertimu, ia juga benci pertengkaran dan debat sengit, ia tak suka melihatmu mengacungkan telunjuk padanya, menuding tingkahnya, dan menyalahkannya. Ia menikahimu karena mencintaimu, ingin menjagamu.
Pernahkah kau membayangkan siapa pria yang kelak membuatmu yakin pada cinta sejati, cinta selamanya, dan belahan jiwa?
Ini tidak untuk dijawab. Anggukan, senyum, dan bayanganmu tentangnya telah menunjukkan semua. Kau tahu, kadang cinta membuatmu tertawa begitu keras. Entah karena bahagia atau menertawakan dirimu sendiri. Tapi, hanya pada pemilik rusuk-lah semua cinta rela dibagi dan digadaikan tanpa sisa.
Saat ini ia menunggumu. Ia bisa berada di mana saja. Ia bisa siapa saja. Satu hal yang pasti, ia berada di masa depanmu. Kalian sedang saling menunggu.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)