Selasa, 11 Juni 2013

Pernahkah

Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling berharga di dunia adalah bisa melihat yang dicinta mengembang tertawa bahagia? Sekalipun kalian tak menyapa, raga tak meraba, bahkan mata tak memapar apa-apa.
Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuatmu bahagia adalah kehadirannya? Cukup dengan kenyataan bahwa dia ada. Dia nyata, diciptakan Tuhan, menjadi bagian lain dari dunia, menjadi pelengkap cerita. Meski cerita itu tak berakhir padamu.
Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuat hati sesak adalah perasaan lega karena dia baik-baik saja? Dimana pun dia, bersama siapa pun, sekalipun sedang menggandeng yang kau benci, tapi dia baik-baik saja. Dia bukan punyamu, bukan milikmu, jauh dari jangkauan dan genggammu. Tapi seakan-akan dia milikmu.
Pernahkah kau, mendoakan bahagianya dalam hening panjang bersama Tuhan?
Di tiap langkah yang kuseret, aku tahu apa yang kudengungkan dalam hati. Rapat-rapat, berderap dengan mantap. Doa lirih yang mengalir dalam bisik pada Sang Pemilik Segala. Aku senang. Hati ini, meski berkali-kali remuk, tetap tak kehilangan pemiliknya.

Pernahkah aku, mendoakan bahagia seseorang? Selalu. Setiap waktu.

Pernahkah

Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling berharga di dunia adalah bisa melihat yang dicinta mengembang tertawa bahagia? Sekalipun kalian tak menyapa, raga tak meraba, bahkan mata tak memapar apa-apa.
Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuatmu bahagia adalah kehadirannya? Cukup dengan kenyataan bahwa dia ada. Dia nyata, diciptakan Tuhan, menjadi bagian lain dari dunia, menjadi pelengkap cerita. Meski cerita itu tak berakhir padamu.
Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuat hati sesak adalah perasaan lega karena dia baik-baik saja? Dimana pun dia, bersama siapa pun, sekalipun sedang menggandeng yang kau benci, tapi dia baik-baik saja. Dia bukan punyamu, bukan milikmu, jauh dari jangkauan dan genggammu. Tapi seakan-akan dia milikmu.
Pernahkah kau, mendoakan bahagianya dalam hening panjang bersama Tuhan?
Di tiap langkah yang kuseret, aku tahu apa yang kudengungkan dalam hati. Rapat-rapat, berderap dengan mantap. Doa lirih yang mengalir dalam bisik pada Sang Pemilik Segala. Aku senang. Hati ini, meski berkali-kali remuk, tetap tak kehilangan pemiliknya.

Pernahkah aku, mendoakan bahagia seseorang? Selalu. Setiap waktu.
Haloo!!!Selamat Malam!!!

pasti kangen sama postingan gue kan?iya kan?iya dong?pastinya kan? haha...
langsung kita liat aja ya gue mau posting apa sih?;;)))
cekidottttt!!!!
Haloo!!!Selamat Malam!!!

pasti kangen sama postingan gue kan?iya kan?iya dong?pastinya kan? haha...
langsung kita liat aja ya gue mau posting apa sih?;;)))
cekidottttt!!!!

Bidadari Surga (UJE)

Setiap manusia punya rasa cinta
Yang mesti dijaga kesuciaanya
Namun ada kala insan tak berdaya
Saat dusta mampir bertahta

Ustad Jefri (Uje)

Kuinginkan dia
Yang punya setia
Yang mampu menjaga kemurniaanya
Saat ku tak ada
Ku jauh darinya
Amanah pun jadi penjaganya

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah... Bidadari Surgaku

Tiada yang memahami
Segala kekuranganku
Kecuali kamu, bidadariku

Maafkanlah aku
Dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah... Bidadari Surgaku

Bidadari Surga (UJE)

Setiap manusia punya rasa cinta
Yang mesti dijaga kesuciaanya
Namun ada kala insan tak berdaya
Saat dusta mampir bertahta

Ustad Jefri (Uje)

Kuinginkan dia
Yang punya setia
Yang mampu menjaga kemurniaanya
Saat ku tak ada
Ku jauh darinya
Amanah pun jadi penjaganya

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah... Bidadari Surgaku

Tiada yang memahami
Segala kekuranganku
Kecuali kamu, bidadariku

Maafkanlah aku
Dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah... Bidadari Surgaku

Sabtu, 08 Juni 2013


"puaskah kamu sudah merebut kebahagiaanku?"
Puas? Kenapa harus puas? Memangnya ini perlombaan dan kita sedang saling mengalahkan? Lagipula, memang kau anggap apa bahagiamu hingga saat bahagia itu hilang, kau dakwa orang lain yang telah merenggutnya. Bahagiamu kau gantung pada orang lain ya, hingga saat dia pergi sekonyong-konyong bahagiamu ikut pergi. Aku akan puas sekaligus bahagia kalau kau puas dengan bahagiamu. Puas?
Seperti titik-titik air di kaca jendela itu. Kau boleh menganggapnya hujan atau embun, terserah mana persepsimu. Persis seperti apa yang kaupikirkan, seperti itulah hidupmu akan berkembang. Kalau kau pikir itu hujan yang baru saja reda, mungkin yang terpikir adalah adegan duduk di tepinya saat rintikan itu turun dan merambati jendela. Kalau semua itu ternyata embun yang terlalu banyak hingga seperti ingin membasahi seluruh jendela, mungkin yang terpikir adalah awal pagi yang terlampau dingin. Yang mana saja. Bahkan, bila kau pikir itu adalah rindu yang bergumul jadi satu dan membentuk tetesannya sendiri untuk masuk lewat jendela kamar, tidak salah juga. Dewi Hera yang menangis karena Dewa Zeus terlalu sering mengkhianatinya? Gagasan yang kusuka.
Pikiran bisa sempit dan luas, bisa mendadak jadi lapangan selebar dunia atau kotak perhiasan kecil tanpa sela. Kalau kau mau, pikiran bisa jadi yang mana saja. Aku lebih senang memikirkan pikiran berbetuk persis wujudku sendiri. Yang saat sedang kacau, kubayangkan aku sedang meringkuk sambil memegangi kepala. Yang saat sedang bahagia, kubayangkan aku sedang tertawa sembari merentang tangan selebar-lebarnya. Kalau semua sudah kuhubungkan dengan diri sendiri, tentu tak akan kubiarkan pikiranku menanggung hal-hal tidak penting. Kan?
Bosan dengan "Bahagia itu sederhana", kupikir kini "Bahagia itu diri merdeka".
Bahagiakah kau dengan segala pikiran yang memberatkan itu?